Citayam Fashion Week dan Merebut Kembali Jalan sebagai Ruang Publik

Sekumpulan anak muda berusia tanggung berkumpul di kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta. Mereka, yang kira-kira umurnya 12-17 tahun, memadati kawasan tersebut dengan menggunakan pakaian yang sangat modis dan kekinian. Anak-anak muda tersebut umumnya berasal dari luar Jakarta, seperti Bogor, Depok, dan sekitarnya. Karena itulah, kawasan tersebut dikenal dengan Citayam Fashion Week, sebuah jenama yang terinspirasi dari New York atau Paris Fashion Week dimana warga berlomba-lomba untuk tampil modis saat pekan pagelaran mode dunia tersebut berlangsung.

Semaraknya Citayam Fashion Week tentu tidak bisa dilepaskan dari masifnya media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, dalam memviralkan fenomena tersebut. Bahkan, media sosial juga turut andil dalam mempromosikan Citayam Fashion Week hingga dikenal di tingkat global dan disandingkan dengan ikon mode global lainnya seperti Harajuku di Jepang dan Camden di Inggris.

Fenomena Citayam Fashion Week ini berlangsung di Jalan Sudirman, salah satu jalan protokol di Jakarta. Banyak orang memenuhi pinggiran jalan dan trotoar, ada yang hanya sekedar menonton dan menikmati suasana, ada pula yang ikut meramaikan pagelaran mode informal ini. Hiruk pikuk keramaian warga ini turut andil pula pada kemacetan di kawasan tersebut, karena banyaknya orang yang turun dan mengokupasi jalan. Di zebra cross tempat catwalk jalanan tersebut pun sangat ramai, bukan karena orang menyeberang jalan, tetapi karena mereka berlenggak-lenggok di jalan.

Lalu pertanyaannya, sudah tepatkah Citayam Fashion Week jika dilihat dari kacamata perencanaan kota? Jalan, memang pada umumnya berfungsi sebagai tempat pergerakan barang dan jasa. Namun tidak hanya itu, jalan juga memiliki beragam fitur sosial budaya lainnya, sehingga termasuk ke dalam ruang publik. Trotoar dan jalur pejalan kaki, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari jalan, adalah ruang terbuka publik untuk beragam aktivitas masyarakat. Fenomena Citayam Fashion Week juga menunjukkan bahwa zebra cross juga menjadi ruang publik, tempat warga berinteraksi sosial.

Jalan, yang dimaknai sebagai ruang publik, merupakan melting pot yang digunakan oleh masyarakat dengan beragam tujuan setiap harinya dan dengan moda mobilitas yang berbeda-beda pula. Namun, definisi jalan yang luas ini sepertinya direduksi hingga menjadi jalan sebagai fungsi pergerakan dan lalu lintas barang dan jasa, seperti yang tercantum dalam UU no. 38 tahun 2004 tentang Jalan dan UU no. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.[1] Hal ini kemudian berimplikasi pada prioritas penggunaan jalan: melancarkan lalu lintas kendaraan yang melewatinya, bukan serta merta pada keadilan dan berbagi ruang dalam bermobilitas. Jamak ditemukan pengguna kendaraan pribadi yang tidak mengerem saat ada pejalan kaki di zebra cross atau kendaraan yang diparkir sembarangan di trotoar.

Fungsi jalan sebagai ruang publik ini lah yang kemudian berusaha direbut kembali, seiring dengan hadirnya Citayam Fashion Week. Gerakan ini, yang kemudian menjamur di kota-kota lain, sejatinya merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap dominasi penggunaan jalan oleh kendaraan pribadi yang memarjinalkan manusia sebagai pejalan kaki. Citayam Fashion Week juga berhasil mengangkat isu yang lebih penting: vitalnya ruang publik dan ruang terbuka hijau sebagai sarana berekspresi para pemuda yang kreatif. Citayam Fashion Week juga berupaya untuk menunjukkan bahwa kasta tertinggi dalam penggunaan jalan seharusnya diberikan kepada pejalan kaki, bukan lagi kendaraan pribadi.

Upaya merebut dan mengklaim jalan sebagai ruang publik ini bukan tanpa tantangan. Komentar terkait Citayam Fashion Week jangan sampai mengganggu arus lalu lintas menunjukkan pola pikir yang usang: lagi-lagi mengedepankan jalan sebagai fungsi pergerakan dan lalu lintas semata. Padahal, paradigma pembangunan kota harus mulai bergeser dan berorientasi kepada manusia dan lingkungan, atau dalam hal ini pejalan kaki. Gerakan untuk mengembalikan jalan sebagai ruang publik harus didukung secara teknokratis dan politis guna mendorong kota yang semakin layak untuk dihuni penduduknya.

Citayam Fashion Week tidak hanya menunjukkan kebebasan berbusana anak-anak muda Jabodetabek. Lebih dari itu, Citayam Fashion Week merupakan gugatan bagi para pengelola kota untuk selalu menyediakan ruang publik yang inklusif dan mudah diakses. Citayam Fashion Week juga merupakan sebuah momentum bagi para pengelola kota untuk memperbaiki dan menambah ruang terbuka publik bagi semua yang dapat mewadahi kreativitas pemuda dan pemudi di kota.

Nurulitha Andini Susetyo
Nurulitha Andini Susetyo

Pengalaman bekerja dimulai dari Bappenas sebagai staf pendukung (2012) dengan fokus pada isu desentralisasi dan otonomi daerah. Memiliki latar belakang sebagai Sarjana Teknik PWK ITB (2008-2012) dan Master of Arts dari International Institute of Social Studies (ISS), Erasmus University Rotterdam (2015) jurusan Social Policy for Development.

[1] https://alfaraby.staff.ugm.ac.id/2018/01/05/jalan-dan-peranannya-sebagai-ruang-publik-kota/

Sumber foto utama: https://www.kompas.com/tren/read/2022/07/24/205100665/citayam-fashion-week-dan-dampak-dampak-yang-ditimbulkannya?page=all

Default image
ruangwaktuknowledge
Articles: 34

Tinggalkan Balasan

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
%d blogger menyukai ini: