Globalisasi dan Metropolitan di Indonesia

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.

Globalisasi dan Metropolitan di Indonesia
Oleh: Wicaksono Sarosa (2006)

Walau sudah sering menjadi topik pembicaraan dalam, kurang lebih, seperempat abad terakhir ini ―bahkan cenderung menjadi jargon yang klise― istilah ”globalisasi” yang mulai dikenal pada awal 1980-an masih belum memiliki definisi yang disepakati bersama (Centre for Developing Cities 2006). Padahal, pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan globalisasi akan mempengaruhi sikap terhadap globalisasi tersebut. Lebih-lebih, globalisasi dalam pengertian yang luas sebagai suatu fenomena interaksi dan proses pengaruh-mempengaruhi secara sosialekonomi-budaya-demografi dari bagian bumi yang satu ke bagian yang lain pun dapat dikatakan telah berlangsung selama berabad-abad sebagaimana yang tegambarkan dalam kisah Marco Polo atau Admiral Cheng Ho. Hanya saja, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi yang pesat dalam dua puluh lima tahun terakhir telah membuat fenomena tersebut saat ini berlangsung lebih cepat dan dalam skala yang jauh lebih besar, dengan lingkup yang lebih luas menjangkau berbagai bidang, serta memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi (UN-Habitat
2004).

Terlepas dari perdebatan akademik tentang arti globalisasi, fenomena intensifikasi
keterkaitan yang semakin mendunia sebenarnya dapat dirasakan oleh sebagian besar orang, khususnya mereka yang tinggal atau bekerja di kota-kota besar atau metropolitan. Sungguh, globalisasi dan kota adalah dua konsep yang tak terpisahkan. Di satu sisi kota hampir selalu menjadi sumber, simpul dan penggerak dari berbagai perubahan, di sisi lain kota pun merupakan bagian bumi yang paling cepat dipengaruhi oleh berbagai perubahan global. Proses urbanisasi (baik karena migrasi desa-kota ataupun akibat pengalihan fungsi lahan) pun menjadi atribut yang tidak terpisahkan dari globalisasi. Implikasinya, kemampuan suatu bangsa dalam mengelola kota-kotanya sesuai dengan tuntutan global (yang bisa bersifat eksternal maupun internal) akan mempengaruhi kemajuan relatif bangsa tersebut di tengah-tengah masyarakat global yang semakin kompetitif. Demikian pula, kemampuan pengelola kota dalam memahami berbagai perubahan global ―yang bersifat terus menerus― serta pengaruhnya terhadap kehidupan kota yang dikelolanya akan sangat mempengaruhi kemampuan kota tersebut untuk berkembang dan bersaing dengan kota-kota lain di dunia yang semakin saling tergantung satu sama lain. Dalam konteks inilah pembahasan globalisasi dan kota-kota metropolitan di
Indonesia masih (dan selalu akan) dianggap perlu.

%d blogger menyukai ini: