Artikel

Ekspansi Data Center di Tengah Krisis Air dan Perubahan Iklim

05 October 2026
~5 mnt baca
Ekspansi Data Center di Tengah Krisis Air dan Perubahan Iklim

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang pesat dan digunakan dalam berbagai aktivitas, mulai dari pencarian informasi, pembuatan konten, hingga pengolahan data (Nurul et al., 2026). Perkembangan tersebut membutuhkan infrastruktur komputasi dalam skala besar melalui pusat data (data center) yang menyimpan dan mengolah informasi untuk mendukung berbagai layanan digital (Bhakti, 2021).

 

Peningkatan penggunaan AI mendorong pertumbuhan fasilitas komputasi. Perangkat berkapasitas tinggi menggunakan energi dalam jumlah besar dan menghasilkan panas selama beroperasi. Sistem pendinginan diperlukan untuk menjaga perangkat tetap bekerja secara optimal (Amanda, 2026). Menurut United Nations Economic Commission for Europe (UNECE), pusat data berkapasitas 1 MW dengan sistem pendinginan berbasis evaporasi dapat menggunakan sekitar 25,5 juta liter air per tahun. Lebih dari 60% jejak air pusat data juga dapat berasal secara tidak langsung dari pembangkitan listrik yang digunakan untuk mengoperasikannya (Mytton, 2021).

Dalam skala global, ekspansi pusat data juga berlangsung di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air. Berdasarkan hasil studi bahwa seperempat pusat data yang teridentifikasi di dunia berada di wilayah yang mengalami kesenjangan air setidaknya satu bulan setiap tahun berdasarkan kondisi hidrologis periode 2001–2010 (Rosa et al., 2026). Di Indonesia, kapasitas pusat data yang beroperasi tercatat sekitar 637,24 MW pada Mei 2026. Berdasarkan simulasi menggunakan nilai Water Usage Effectiveness (WUE) 1,8–1,9 liter/kWh, kebutuhan air langsungnya dapat berada pada kisaran 10–10,6 miliar liter per tahun (Susanti, 2026). Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan asumsi WUE, bukan angka konsumsi air aktual seluruh pusat data di Indonesia.

Bagaimana memastikan kebutuhan air pusat data tidak memperburuk krisis air di wilayah perkotaan?

Kota menjadi lokasi strategis bagi pusat data karena memiliki akses terhadap jaringan telekomunikasi, pasokan energi, dan pusat aktivitas ekonomi. Namun, pembangunan fasilitas berkapasitas besar dapat meningkatkan kebutuhan air dan energi di kawasan yang juga melayani rumah tangga, industri, pertanian, serta fasilitas publik. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan sumber daya berpotensi meningkatkan persaingan pemanfaatan air dan memperbesar tekanan terhadap lingkungan perkotaan (Zhao et al., 2022). Penggunaan listrik dalam jumlah besar juga dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca, terutama jika masih bergantung pada bahan bakar fosil (Hanifah & Purbadharmaja, 2025). Di sisi lain, perubahan iklim dapat mengurangi ketersediaan air dan meningkatkan risiko kekeringan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya perencanaan pusat data yang mempertimbangkan dampak lingkungan dan ketahanan sumber daya air di wilayah perkotaan.

Pemerintah dan pengelola kawasan perlu mempertimbangkan hubungan antara ekspansi pusat data dan ketahanan air. Pada Februari 2026, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan bahwa pengembangan pusat data perlu diselaraskan dengan strategi ketersediaan air nasional. Air merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pendinginan pusat data sehingga kebutuhan dan pengelolaannya perlu diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan (Saputra, 2026).

Apa yang Perlu Ditetapkan Sejak Awal?

Pembangunan data center perlu mempertimbangkan daya dukung air, kebutuhan masyarakat, proyeksi pertumbuhan, dan risiko kekeringan sejak pemilihan lokasi. Batas penggunaan air perlu ditetapkan dan dipantau melalui indikator seperti Water Usage Effectiveness (WUE) disertai pelaporan yang transparan (Sandhiyana, 2025).  Teknologi pendinginan hemat air seperti direct-to-chip liquid cooling, sistem sirkulasi tertutup, dan pendinginan berbasis udara dapat diterapkan sesuai kebutuhan fasilitas (Amanda, 2026). Sumber air alternatif berupa air daur ulang, air hujan, air olahan, atau Atmospheric Water Generator (AWG) dapat disiapkan sebagai sumber tambahan. Pembangunan pusat data perlu terintegrasi dengan perencanaan energi, tata ruang, lingkungan, dan jaringan utilitas untuk mengendalikan dampak kumulatif, menjaga daya dukung wilayah, serta mengurangi persaingan pemanfaatan air dan energi (Saraya, 2025).

Seperti Apa Data Center yang Seharusnya?

Pusat data masa depan perlu dirancang sesuai daya dukung wilayah melalui ketersediaan air dan energi yang memadai, sistem pendinginan efisien, penggunaan air yang terukur, serta sumber air alternatif dan rencana pengelolaan saat kekeringan. Pertumbuhan AI dan ekonomi digital akan meningkatkan kebutuhan kapasitas komputasi sehingga perencanaannya perlu disertai pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan (Dharmawantara, 2026). Dalam perencanaan wilayah dan kota, pembangunan pusat data perlu mempertimbangkan manfaat ekonomi, kebutuhan infrastruktur, dampak ekologis, serta kapasitas sumber daya setempat. Efisiensi teknologi perlu didukung pemilihan lokasi yang sesuai, terutama pada wilayah dengan keterbatasan air.


 

Referensi

Amanda, T. (2026). Sistem Manajemen Termal Cerdas untuk Pusat Data AI: Optimalisasi Pendinginan Cair. Jurnal Ilmiah Ilmu Teknik Mesin, Industri, Dan Komputer, 2, 43–53.

Bhakti, R. M. H. (2021). Perancangan dan Implementasi Ruangan Data Center dengan Framework TIA-942. 3(01), 86–94.

Dharmawantara, M. A. A. (2026). Analisis dampak lingkungan data center di indonesia pada era ai: tinjauan emisi karbon dan penggunaan lahan dalam perspektif green computing. 2(1).

Hanifah, P. R., & Purbadharmaja, I. B. P. (2025). Analisis Pengaruh Konsumsi Listrik dan Konsumsi Bahan Bakar Fosil Terhadap Eksternalitas Negatif Emisi Gas Rumah Kaca di Indonesia eksternalitas negatif berupa emisi yang kemudian merusak lingkungan . Hasil kajian para. 11(2).

Mytton, D. (2021). Data centre water consumption. https://doi.org/10.1038/s41545-021-00101-w

Nurul, A., Putri, E., Syahda, T. Q., Nursihab, I. M., Putri, N., Veralin, L., Nuraini, S., Putri, C. A., & Falah, M. (2026). Konsep Dasar Serta Manfaat Artificial Intelligence (AI) Dalam Kehidupan Modern. 2(3), 978–984.

Rosa, L., Sangiorgio, M., Scanlon, B. R., Mazzotti, M., Berry, J., & Michalak, A. M. (2026). One Quarter of Global Data Centers are Located in Water-Stressed Areas. https://doi.org/10.1021/acs.est.6c08088

Sandhiyana, A. B. (2025). Optimalisasi Pengelolaan Air pada Lahan Kering untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian Berkelanjutan : Pendekatan Prinsip Agroekologi Water Management Optimization in Dryland Agriculture to Enhance Sustainable Agricultural Productivity : Agroecological. 6(4), 2022–2031.

Saputra, B. (2026). AHY minta ekspansi data center perhatikan ketahanan air. https://ambon.antaranews.com/berita/318362/ahy-minta-ekspansi-data-center-perhatikan-ketahanan-air

Saraya, E. G. (2025). Apa itu Atmospheric Water Generator (AWG)? Teknologi Penghasil Air dari Udara. https://environesia.co.id/blog/Apa-itu-Atmospheric-Water-Generator-AWG-Teknologi-Penghasil-Air-dari-Udara

Susanti, S. (2026). Konsumsi Air AI dan Tantangan Keberlanjutan di Indonesia. https://bataviapos.id/susi-susanti/konsumsi-air-ai-dan-tantangan-keberlanjutan-di-indonesia/

Zhao, W., Chen, J., Hai, T., & Mohammed, M. N. (2022). Design of low-energy buildings in densely populated urban areas based on IoT. Energy Reports, 8, 4822–4833. https://doi.org/10.1016/j.egyr.2022.03.139

#RuangWaktu #Artikel
Bagikan:

Dipublikasikan Oleh

Tim Redaksi RuangWaktu

Mengkurasi dan menyajikan wawasan mendalam seputar dinamika pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Berdedikasi untuk ruang publik yang lebih baik.


Eksplorasi Lainnya

Kota Masa Depan Dimulai Hari Ini
Artikel
28 Sep 2026

Kota Masa Depan Dimulai Hari Ini

Baca
Bencana Tidak Dapat Dicegah, Tapi Risikonya Dapat Dikurangi
Artikel
11 Sep 2026

Bencana Tidak Dapat Dicegah, Tapi Risikonya Dapat Dikurangi

Baca
Ruang Hijau untuk Semua
Artikel
02 Sep 2026

Ruang Hijau untuk Semua

Baca
Lihat Semua Artikel