Artikel

Hujan yang membawa mikroplastik ke kota

13 May 2026
~5 mnt baca
Hujan yang membawa mikroplastik ke kota

Kalian ngerasa nggak sih akhir-akhir ini hujan kayak nggak ada habisnya? Dulu, dalam setahun, hujan cuma turun di setengah musim. Tapi, sekarang rasanya hampir tiap bulan hujan terus. 

Kalau dulu kita kenal Bogor sebagai “Kota Hujan”, sekarang satu Indonesia udah berasa jadi “Negara Hujan”!

Yang bikin parah, hujan yang mengguyur kita ini bukan hujan biasa. Peneliti menemukan kalau air hujan mengandung mikroplastik. [1] Jumlahnya menjadi lebih tinggi di daerah perkotaan yang padat penduduk. [2]




Ngeri banget, kan?

Kenapa bisa terjadi?

Mikroplastik itu potongan plastik super kecil, ukurannya bahkan bisa lebih kecil dari debu. Mereka bisa datang dari banyak hal yang kita lakukan setiap hari. Contohnya, serpihan ban mobil waktu jalan di aspal, emisi kendaraan, konstruksi, pengelolaan limbah, serat halus dari baju sintetis pas dicuci, atau plastik bekas yang terus menerus kena panas dan hujan lalu hancur jadi partikel kecil.[3]


Citra mikroskop optik dari mikroplastik: a. serat transparan, b. serat merah, c. bola transparan, d. butiran hijau, e dan f. fragmen heksagonal berwarna biru, g. butiran putih yang tertutup lapisan tipis berkilau perak, h. butiran biru, dan i. contoh fragmen mikroplastik dengan dua warna.

 

Kenapa mikroplastik lebih banyak di kota?

Gampangnya, karena kehidupan kota yang sibuk. Peneliti juga sudah menemukan buktinya. Daerah yang lebih banyak kendaraan, industri, dan padat penduduk memang punya kadar mikroplastik lebih tinggi. [4]

Di Jakarta, misalnya. Saat musim hujan, jumlah mikroplastik di udara dan airnya meningkat dibanding musim kemarau. Jadi, makin sibuk kotanya, makin banyak juga plastik halus yang ikut muter bareng udara dan hujan yang kita rasain tiap hari.

Sumber utama partikel halus ini nggak bisa dilepaskan dari tumpukan sampah plastik yang belum tertangani dengan baik. Bayangin aja, Indonesia bisa menghasilkan sampai 68,7 juta ton/tahun dengan komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, dengan 19% di antaranya adalah sampah plastik. Sayangnya, cuma sekitar 65% yang berhasil diangkut ke tempat pemrosesan akhir. [5]

Sisanya?

Banyak dari mereka yang berakhir dibakar sembarangan, hanyut di sungai, atau numpuk di lahan terbuka tanpa pengolahan yang layak. Lebih serius lagi, sekitar 3,2 juta ton dari tumpukan itu bermuara di laut. [6]

Ketika itu terjadi, berarti sebagian besar plastik yang kita buang setiap hari punya peluang besar buat kembali lagi ke kita lewat udara, air, dan hujan yang turun dari langit.

Hal yang paling gampang dan paling bisa kita lakukan mulai dari diri sendiri adalah (1) batasi pemakaian plastik sekali pakai, misalnya kantong kresek, styrofoam, dan botol air. Kita juga bisa (2) perkuat manajemen limbah plastik yang kita hasilkan, antaranya dengan daur ulang dan menghindari pembakaran terbuka.

Untuk tingkatan yang lebih advance lagi, kita bisa (3) ganti bahan ban kendaraan yang kita pakai dengan bahan yang rendah abrasi. Filter yang dipakai di (4) mesin cuci kita juga harus dipastikan bisa menahan serat mikro dari pakaian sintetis.

Secara lebih makro lagi, keberadaan vegetasi dan ruang hijau kota membantu banget buat jadi filter alami untuk menangkap partikel udara, termasuk mikroplastik. Mereka juga harus (5) dilindungi mengingat fungsinya sebagai resapan alami.

Ini memang nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. Perlu waktu, nggak bisa instan. Asal kita konsisten, mulai dari diri sendiri, sambil terus kampanye kesadaran publik.


[1] Parashar, N., & Hait, S. (2023). Plastic rain-Atmospheric microplastics deposition in urban and peri-urban areas of Patna City, Bihar, India: Distribution, characteristics, transport, and source analysis. Journal of hazardous materials, 458, 131883. https://doi.org/10.1016/j.jhazmat.2023.131883

[2] Jia, Q., Duan, Y., Han, X., Sun, X., Munyaneza, J., Ma, J., & Xiu, G. (2022). Atmospheric deposition of microplastics in the megalopolis (Shanghai) during rainy season: Characteristics, influence factors, and source. The Science of the total environment, 847, 157609. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2022.157609

[3] Purwiyanto, A. I. S., Prartono, T., Riani, E., Naulita, Y., Cordova, M. R., & Koropitan, A. F. (2022). The deposition of atmospheric microplastics in Jakarta-Indonesia: The coastal urban area. Marine pollution bulletin, 174, 113195. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2021.113195

[4] Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2023). KLHK Ajak Masyarakat Kelola Sampah Organik Jadi Kompos. https://www.menlhk.go.id/news/klhk-ajak-masyarakat-kelola-sampah-organik-jadi-kompos

#RuangWaktu #Artikel
Bagikan:

Dipublikasikan Oleh

Tim Redaksi RuangWaktu

Mengkurasi dan menyajikan wawasan mendalam seputar dinamika pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Berdedikasi untuk ruang publik yang lebih baik.


Eksplorasi Lainnya

Nilai Urbanisasi Berkelanjutan dan Masa Depan SDGs
Artikel
13 May 2026

Nilai Urbanisasi Berkelanjutan dan Masa Depan SDGs

Baca
Urgensi RUU Perkotaan
Artikel
13 May 2026

Urgensi RUU Perkotaan

Baca
Tata Kota dan Krisis BBM
Artikel
13 May 2026

Tata Kota dan Krisis BBM

Baca
Lihat Semua Artikel