Selama ini kita sering berfokus untuk ‘melawan’ air hujan dengan mengalirkannya secepat mungkin ke sungai atau ke laut. Namun, semakin kita lawan, semakin kota kita kewalahan. Konsep sponge city menawarkan pendekatan berbeda.
Kira-kira bagaimana konsep ini bisa berjalan?
Sponge City menjadi alternatif pengelolaan air hujan yang pertama kali digagas oleh Peter Cook tahun 1970-an, lalu dikembangkan oleh Prof Kongjian Yu pada tahun 2003, dan kian populer setelah konsep tersebut diterapkan oleh Pemerintah Tiongkok pada tahun 2013.
Istilah tersebut didasarkan dari pengalaman Prof Yu saat kecil di suatu desa di Tiongkok. Dirinya pernah jatuh ke sungai kecil dan selamat berkat pohon willow yang mampu memperlambat arus. Bertahun-tahun kemudian, ia sadar bahwa peristiwa tersebut menyingkap masalah besar dalam sistem drainase.
Pada konteks perkotaan, manajemen air menjadi aspek penting dan cakupannya kian meluas hingga pada keterkaitannya dengan urbanisasi yang pesat, perubahan iklim, serta kebijakan tata kota yang tidak tepat. Banjir, menurunnya muka tanah, krisis air, dan polusi air menjadi dampak dari peristiwa tersebut (Nguyen dkk., 2018).
Konsep sponge city bekerja dengan cara mengubah perilaku kota dalam memperlakukan air hujan. Mereka bukannya langsung dibuang, melainkan diserap, disimpan, dan dimanfaatkan kembali.
Pendekatan sponge city dilakukan dengan elemen-elemen kota, seperti green rooftop, tanaman resapan, ruang terbuka hijau, badan air alami, dan perkerasan berpori dengan menganut prinsip infiltrasi, retensi, penyimpanan, pemurnian, pemanfaatan kembali, dan pembuangan.
Sponge City Illustration – focus.cbbc.org
Air yang jatuh ke permukaan tanah diperlambat agar dapat meresap ke tanah sehingga limpasan permukaan berkurang dan kualitas air tanah membaik.
Riset menunjukkan bahwa implementasi sponge city mampu mengurangi hingga 67% area limpasan dan 85% kejadian banjir.
ARUP tahun 2022 melakukan studi the Global Sponge Cities Snapshot terhadap 10 kota global di dunia.
- Auckland, New Zealand: Menjadi the “spongiest” city dengan kemampuan menyerap air sebesar 35%. Hal ini didukung oleh fakta bahwa 50% permukaan Auckland adalah area hijau-biru.
- Nairobi, Kenya: Area hijau-biru Nairobi sedikit lebih tinggi daripada Auckland, yaitu seluas 52%. Posisi Nairobi diuntungkan dengan melimpahnya infrastruktur hijau alami, utamanya padang rumput.
- Toronto, Kanada: Sama seperti Nairobi yang memiliki tingkat penyerapan air kota sebesar 34%, tetapi kemampuan Toronto untuk menyerap limpasan sedikit lebih rendah akibat jenis tanah campuran pasir dan lempungnya. Kemampuan manajemen air Toronto didukung oleh sistem jurang yang saling terhubung.
Di tengah masifnya pembangunan kota beserta isu yang mengikutinya, konsep sponge city dapat menjadi angin segar alternatif perencanaan kota. Dalam konteks Indonesia, implementasinya masih bersifat parsial dan terbatas.
Nusantara digadang akan menjadi role model kota spons di Indonesia, antaranya dengan komposisi area biru-hijau hingga 70%, pemanfaatan atap hijau, penggunaan perkerasan berpori, sistem drainase dengan sistem kolam retensi dan jaringan pipa.
Di tengah krisis air dan banjir yang berulang, sponge city mengingatkan kita bahwa masalah tersebut tidak selalu ditentukan oleh infrastruktur beton yang besar, melainkan oleh ruang hijau yang lebih luas, dan cara pandang yang lebih bijak dalam mengelola air hujan.
Refrensi:
Valliammai. (2024). The Design Gesture: Adopting Sponge City Concepts - Absolute Need of the Hour. Turenscape.com. www.turenscape.com/en/news/
Wong, T. (2021). The man turning cities into giant sponges to embrace floods. BBC.com. https://www.bbc.com/news/world-asia-china-59115753
Nguyen, T. T., Ngo, H. H., Guo, W., Wang, X. C., Ren, N., Li, G., ... & Liang, H. (2018). Implementation of a specific urban water management-Sponge City. Science of the Total Environment, 652, 147-162. https://doi-org/10.1016/j.scitotenv.2018.10.168
Nguyen, T. T. (2022). An Integrated Conceptual Model Towards Sustainable Rural Water Management Based on Remote Sensing and Machine Learning. University of Technology Sydney.
Drainage Services Department Sustainability Report 2016-17. Sponge City: Adapting to Climate Change - Climate change mitigation and adaption. (n.d.). https://www.dsd.gov.hk/Documents/SustainabilityReports/1617/en/sponge_city.html
ARUP. (2022). Global Sponge Cities Snapshot. https://www.arup.com/insights/global-sponge-cities-snapshot/